Sabtu, 05 November 2011

Gerakan Perubahan: dari Media Sosial ke Negara


Generasi muda sepanjang sejarah menempatkan diri sebagai kelompok yang memiliki peran strategis dalam perubahan, baik secara moral, sosial, politik, maupun kultur. Pergerakan pemuda pada setiap masanya selalu diwarnai dengan berbagai karakter yang menunjukkan pola-pola pergerakan dan atau perubahan yang diusung kepada khalayak. Mulai dari yang konvensional sampai yang paling modern, dari yang berdampak lokal sampai mendunia. Generasi muda dalam gerakan perubahannya bukan hanya mengusung isu tanpa solusi tapi juga memberikan solusi kritis atas permasalahan yang dihadapi. Bahkan Amin Sudarsono (2010) menegaskan bahwa dalam kesejarahan Indonesia dan sebagian besar negara di dunia, inetelektulitas tampaknya menjadi standar ide-ide perubahan, dan menjadi parameter bagi masyarakat untuk menentukan pemimpin perubahan.[1]

Hal yang menjadi tuntutan besar dan motif pengusungan gerakan perubahan oleh generasi muda adalah ketidakseimbangan kondisi sosial di masyarakat baik yang disebabkan oleh elemen-elemen masyarakat tertentu atau bahkan pemerintah. Pada sisi yang sama pula, gerakan pemuda bermetamorfosa ke dalam bentuk-bentuk yang lebih elegan dan komunikatif tanpa menghilangkan unsur provokatif dan persuasif. Kalaulah dahulu gerakan pemuda menggulingkan tirani Soekarno atau bahkan Orde Baru yang merezim dengan berbagai bentuk aksi demostrasi yang berakhir pada singgungan fisik antara pemerintah dan rakyat yang dalam hal ini pemuda. Namun kini, sebuah pengusungan perubahan, ide-ide yang membakar semangat bisa lebih cepat menyebar dan merasuk ke semua elemen masyarakat melalui berbagai social media yang pada akhirnya masyarakat secara sukarela tersadarkan dan tergerak ke dalam bentuk perubahan yang lebih nyata. Tentu kita masih mengingat bagaimana rezim Muammar Khadafi di Libya dilengserkan oleh gerakan perubahan yang diusung masyarakat, atau bahkan Revolusi Mesir belum lama ini yang dimulai dari gerakan bawah tanah melalui dunia maya yang justru memberikan dampak luas bagi rakyat Mesir itu sendiri. Bukankah telah terbukti, bahwa sejatinya arus kekuatan rakyat (people power) tidak bisa dibendung dengan cara apapun bahkan dengan intimidasi sekalipun.

Adalah satu hal tidak bisa terbantahkan bahwa media informasi yang semakin luas dan bisa diakses oleh semua elemen masyarakat memberikan dampak yang signifikan pada setiap sektor masyarakat. Bahkan gerakan-gerakan perubahan sosial yang selama ini terjadi bukan hanya di Indonesia tapi juga di berbagai belahan dunia lainnya tidak terlepas dari peran media informasi dan komunikasi. Memang sekarang ini, tidak ada lagi kata sendiri dalam perubahan dan juga tidak untuk rasa takut. Sebab kemudahan akses informasi komunikasi memberikan setiap individu ruang yang seluas-luasnya untuk memberikan ide-ide segar mereka bahkan ide yang paling ekstrim sekalipun dalam proses perubahan masyarakat. Bagaimana bisa seorang Prita Mulyani menjadi insiprasi gerakan yang meng-Indonesia dalam membentuk aksi solidaritas kemanusiaan? Atau bagaimana mungkin seorang SBY sering sekali cemas dan mengeluh terkait berbagai pemberitaan tentang dirinya pada berbagai media termasuk media sosial. Hal tersebut dimungkinkan terjadi bahkan masih banyak hal dan peristiwa yang mungkin terjadi akibat gerakan perubahan sosial yang diusung oleh generasi-generasi muda melalui berbagai media sosial yang ada


Propaganda Persuasif Pemuda

            Kita selalu mengidentikkan propaganda dengan sesuatu yang lekat dengan aksi demostrasi dan gerakan perubahan. Memang tidak salah, sebab propaganda adalah salah satu bentuk dari sekian banyaknya bentuk bagian-bagian pendukung pada proses perubahan sosial. Propangare[2]secara harfiyah merujuk pada cara tukang kebun menyemaikan tunas suatu tanaman ke sebuah lahan untuk memperoduksi tanaman baru yang kelak akan tumbuh sendiri. Dengan pemaknaan lain bisa dikatakan bahwa propaganda adalah mengembangkan atau memekarkan (untuk tunas). Maka apa yang dilakukan oleh Prita Mulyasari dalam gerakan perubahan adalah salah satu teknik untuk mengembangkan atau memekarkan pemikiran-pemikiran yang sejalan dengannya yang berbeda tempat, ruang dan waktu sehingga mampu memunculkan atau menghidupkan benih-benih baru pada berbagai situasi di kemudian hari. Dan ternyata benar, Prita Mulyasari berhasil membuka kesadaran masyarakat atas ketidakadilan yang diterimanya dan bahkan mampu mengorganisir beberapa kelompok masyarakat yang memiliki nasib yang sama dalam bentuk gerakan yang lebih terarah dan dinamis.

Harold D. Laswell (1937) menegaskan bahwa propaganda adalah teknik untuk mempengaruhi manusia dengan memanipulasi representasinya. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh Prita Mulyasari atau Pemuda Mesir dalam Revolusi Mesir sebagai bentuk cara bagaimana untuk mempengaruhi kelompok masyarakat lainnya sehingga mampu memberikan dampak yang signifikan bukan hanya untuk kelompoknya tapi untuk seluruh masyarakat pada umumnya. Sebenarnya, yang melatarbelakangi gerakan-gerakan perubahan baik sejenis Prita atau Revolusi Mesir adalah adanya hasil dari proses interaksi antar individu yang memberikan sinyalemen ketidakseimbangan dalam kondisi masyarakat yang akhirnya mengarah pada satu opini publik tertentu. Hal ini tentunya membuat kita berpikir bahwa sejatinya gerakan-gerakan nonformal (seperti melalui media sosial: blog, facebook, atau twitter) justru lebih memberikan efek yang luas dibandingkan gerakan yang terbentuk dalam badan lembaga tertentu. Sebagaimana dikatakan oleh William Albiq (Santos Sastropoetro, 1990) bahwa opini publik adalah suatu jumlah dari pendapat-pendapat individu-individu yang diperoleh melalui perdebatan dan opini publik merupakan hasil interaksi antar individu dalam suatu publik.

Kemudian, apa yang diupayakan oleh gerakan pemuda dalam bentuk propaganda bisa dikatakan sebagai bentuk rekayasa sosial yang meliputi sebuah proses perencanaan, pemetaan dan pelaksanaan dalam konteks perubahan struktur dan kultur sebuah basis sosial masyarakat. Maka perubahan sosial ini dimaknai sebagai perbedaan antara kondisi sekarang dan kondisi sebelumnya terhadap aspek-aspek dari struktur sosial.[3] Revolusi adalah salah satu bentuknya, sebagaimana pernah diupayakan oleh pemuda Mesir yang berakhir pada perubahan struktur sosial masyarakat Mesir secara singkat. Memang revolusi selalu menggunakan cara cepat, cukup beresiko, dilakukan secara reaktif dan terkesan sporadis. Tentunya hal tersebut sejalan dengan semangat perubahan yang diusung generasi muda. Berikan Aku sepuluh orang pemuda maka akan Aku goncangkan dunia, kata Bung Karno yang kemudian selalu menginspirasi gerakan pemuda nasionalis dalam berbagai gerakan perubahannya.[4]



Dari Media Sosial Ke Negara

Facebook, twitter, blog, atau bahkan mailing list kini menjadi media-media sosial yang memberikan berbagai pencerahan pada masyarakat. Banyak ide-ide dan semangat pemuda yang dikobarkan dan disebarkan melalui media tersebut. Memang, kemudahan akses informasi memberikan dampak yang luas dan sporadis begitupula dengan penyampaian ide-ide, kritik, atau bahkan keluhan melalui media-media sosial tersebut. Kita mungkin pernah mendengar istilah blogblower sebagai sebutan untuk para blogger yang berani mengungkapkan semua kejadian di masyarakat baik berupa pengungkapan fakta kasus atau kritik peristiwa. Dan memang, cara-cara seperti itu dinilai efektif dalam pengusungan perubahan masa kini.

Perubahan sosial pada masa-masa sebelum kemunculan teknologi informasi yang canggih dan pesat, selalu diwarnai oleh berbagai praduga yang mengarah pada kepentingan kalangan elit tertentu. Spirit muda sering ditandai dengan berbagai eksklusivitas tanpa sadar. Dalam banyak perbincangan biasanya mereka mengeindetifikasikan diri dengan peran awal para pendiri negara ini yang memulai debut politik mereka sebagai kaum muda. Sisi lain yang tidak bisa dipungkiri adalah fakta bahwa gerakan kaum muda merupakan representasi kelompok elit dari kalangan menengah (middle class) di struktur sosial masyarakat.[5] Kendati demikian, gerakan perubahan pemuda selalu memberikan kesan yang membekas pada masyarakat dan pemerintah.

Gerakan yang dimulai melalui media-media sosial seperti facebook, twitter, maling list, atau blog tidak lagi terlokalisasi dalam bentuk gerakan regional berskala kecil saja melainkan sudah merambah kepada isu-isu kritis terhadap pemerintah dan keinginan untuk bebas dari ketidakadilan rezim. Pada titik inilah, titik dimana gerakan muda tidak lagi terbatas pada isu lokal, memiliki sebuah kesempatan atas kekuasaan gerakan rakyat. Kekuasaan yang dimaknai oleh Budiardjo (2002)[6] sebagai kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang memiliki kekuasaan tersebut. Oleh karenanya, gerakan pemuda membingkai movement mereka dengan bentuk-bentuk kekinian dengan pemanfaatan media sosial secara masif. Maka perubahan sosial, dari media sosial ke negara akan selalu mengalami metamorfosa ke dalam bentuk-bentuk yang lebih baru, elegan dan semakin persuasif.






Ridwan Arifin
ridwanarifin89@ymail.com
Essay for Indonesian Young Netizen Day (IYND) 2011




Catatan Kaki




[1] Amin Sudarsono, Kata Pengantar dalam “Ijtihad Mmbangun Basis Gerakan”, Muda Cendekia, 2010, hlm xii.

[2]  Edo Segara, “Humas Gerakan Membangun Citra Gerakan”, Muda Cendekia, 2010, hlm.  43.

[3]   Amin Sudarsono, “Ijtihad Mmbangun Basis Gerakan”, Muda Cendekia, 2010, hlm 87-88.

[4]   Salah satu ungkapan Mantan Perseiden Soekarno dalam membangkitkan semangat pemuda Indonesia pada masa penjajahan dan kemerdekaan. Ungkapan ini selalu menjadi dalil ‘pembenaran’ bagi pemuda Indonesia bahwa mereka memiliki peran penting dan strategis dalam perubahan masyarakat yang pada akhirnya menimbulkan sikap elitis pragmatis dalam gerakannya.


[5]  Amin Sudarsono, Epilog dalam “Ijtihad Mmbangun Basis Gerakan”, Muda Cendekia, 2010, hlm 213.

[6]  Miriam Buduarho, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, PT Gramedia, 2002. Hlm. 35.

0 komentar:

Poskan Komentar